65 Persen Pulau Jawa Kekeringan
CR-27 | Kamis, 30 Agustus 2012 - 15:28 WIB
: 1420


(dok/SH)
Januari – Juli 2012 sebanyak 53.320 haktare sawah kekeringan.

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sebagian wilayah di selatan Pulau Jawa serta wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kekeringan meski musim kemarau hingga akhir tahun ini diprediksi normal.

Khusus di Pulau Jawa, sekitar 77 kabupaten/kota setiap tahun selalu dilanda kekeringan. Dalam arti daerah tersebut mengalami kekurangan debit air bersih.

Kondisi itu berlangsung antara lima hingga delapan bulan. Untuk mengatasi kekeringan, pihaknya menyiapkan anggaran Rp 60 miliar yang berasal dari dana siap pakai BNPB.

Namun, Menteri Pertanian (Mentan) Suswono ketika ditanyai SH di sela-sela Rapat Koordinasi Dinas Pertanian seluruh Indonesia di Jakarta, Rabu (29/8) siang mengklaim bahwa kekeringan 2012 dipastikan sudah selesai.

Hal itu berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa musim hujan akan dimulai pada September 2012 dengan curah hujan rendah. Curah hujan mulai tinggi terjadi pada Oktober 2012. Namun demikian, beberapa daerah pada akhir Agustus ini sudah mulai hujan, yakni di Sulawesi.

"Kekeringan sejauh ini sangat relatif. Kemaraunya memang mundur ke Mei 2012, tapi masuk musim hujannya tidak mundur. Musim hujan maju di September 2012, namun curah hujan agak tinggi baru terjada pada Oktober 2012,’’ ujar Suswono.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho ketika dihubungi SH, Kamis (30/8) pagi ini mengutip prakiraan BMKG sampai Juli 2012 menyebutkan, kekeringan harus diwaspadai di beberapa daerah, di antaranya Aceh, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat dengan indeks “sangat kering”, Riau, Jawa Timur, Bali, Maluku Utara dan Papua dengan indeks “kering” dan “agak kering”, serta Jawa Barat serta Kepulauan Riau dengan indeks “agak kering”.

Untuk mengatasi masalah kekeringan itu, pihak BNPB menurut Sutopo Purwo Nugroho menetapkan sembilan provinsi yang menjadi prioritas penanganan, yakni Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua.

Sutopo mengatakan, sejauh ini pihaknya telah memberikan layanan distribusi air ke berbagai daerah, seperti Jawa Timur meliputi 616 desa di 23 kabupaten/kota, meliputi Trenggalek, Pacitan, Ngajuk, Ponorogo, Bojonegoro, Pamekasan, Magetan, Malang, Lumajang, Bangkalan, Tulungagung, Blitar, Gresik, Lamongan, Sumenep, dan Madiun.

Ia menyebutkan pada 2011, bencana kekeringan sebagian besar terjadi di wilayah Jawa Barat sebanyak 32 kejadian, Jawa Tengah 19 kejadian, Jawa Timur 26 kejadian, Sulawesi Selatan 35 kejadian.

Sementara itu, Mentan menyebutkan, dengan pantauan cuaca dan iklim BMKG ini maka berkahnya pada September ini bisa dilakukan satu kali lagi penanaman padi.

Ini karena ada daerah yang belum penuhi target seperti Gorontalo dan Kalimantan Timur (Kaltim) karena wilayah itu terkena masalah irigasi. Namun dengan musim hujan maju, daerah seperti itu produksi padinya akan bisa mengejar target.

"Tapi ada juga daerah lain yang dalam rakor pagi ini melaporkan melebihi target. Dengand demikian, prediksi Aram (Angka Ramalan) I peningkatan produksi sebesar 4,31 persen akan terlampaui karena beberapa daerah yang akan memulai tanam pada September. Sekarang ini sudah banyak daerah yang selesai panen, sehingga September nanti mulai hujan. Mereka bisa mulai menanam untuk tambahan pencapaian produksi 2012,’’ ia menjelaskan.

Kabar baiknya, kata Suswono, masih ada potensi menanam di September untuk masuk dalam hitungan angka produksi padi 2012. Dari data BMKG potensi hujannya sudah memungkinkan hujan. ’’Makanya, kita akan optimalkan produksi satu kali lagi,’’jelasnya.

Target Surplus

Untuk persoalan kekeringan yang serius, kata Suswono, dilaporkan oleh Provinsi Riau. Mereka meminta hujan buatan Riau karena kesulitan air, lahannya berjenis rawa dan tadah hujan. Daerah lain tidak minta hujan buatan karena didukung irigasi teknis.

Mengenai cita-cita target surplus 10 juta ton pada 2012, ia optimistis. Jika penerapan SLPTT berhasil dengan tambahan produktivitas 1,2 juta per hektare (ha) dan terjadi optimasi lahan yang selama ini satu kali tanam menjadi dua atau tiga kali tanam, akan membawa bangsa ini kepada target surplus 2012. Ia mengakui memang butuh dana yang memadai dan pengawalan tenaga penyuluh yang ketat.

Ditanya mengenai warning FAO yang memperingatkan kekeringan dan kelaparan kepada dunia global, Suswono mengaku tidak terlalu khawatir. Ini karena potensi Indonesia masih memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri. Indonesia belum masuk katagori krisis tetapi jika FAO memperingatkan memang penting.

Target surplus 10 juta ton beras pada 2014 sebelumnya sempat dikhawatirkan tidak akan terpenuhi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena banyak kendalanya. Itu disampaikan dalam rakor kabinet bidang Pangan awal Agustus lalu.

Presiden telah mengamanatkan pencapaian target itu lewat Inpres No 5/2011 tentang Produksi Beras Nasional. Inpres itu memerintahkan sembilan instansi mengamankan produksi beras nasional.

Simulasi akumulasi terhadap surplus beras dibagi setiap tahunnya. Perhitungannya, pada 2011 target surplus 3,2 juta ton, ditambah pada 2012 sebesar 3,1 juta ton, pada 2013 ditambah 3,6 juta ton, dan pada 2014 sebanyak 4 juta ton. Jika diakumulasikan, jumlah itu melampaui 10 juta ton.

Terkait dengan musim kemarau 2012, Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian Sumarjo Gatot Irianto menyatakan sawah yang kekeringan pada Januari-Juli seluas 53.320 ha. Untuk yang data sampai Agustus 2012, belum masuk ke pihaknya.

Dari jumlah itu, yang puso hanya 1.358 ha, sedangkan periode Oktober sampai Maret (MH 2011/2012) yang terkena kekeringan 22.865 ha, yang puso 3.624 ha. Jika dibandingkan dengan luas tanam periode sama seluas 8,489 juta ha, maka persentase yang terkena kekeringan adalah 0,27 persen dan yang puso 0,04 persen.

Sumarjo yakin kemarau kali ini tidak akan mengganggu produksi pangan nasional karena kekeringan selesai di akhir Agustus. Musim hujan datang pada September menurut prediksi BMKG. Meski demikian, Gatot mengakui potential loss akibat puso cukup besar sekitar 6.790 ton. "Berdasarkan data yang ada, yang jelas luas lahan yang kekeringan tahun ini lebih rendah ketimbang 2011,’’ jelasnya.

Direktur Perindungan Tanaman Pangan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Erman Budiyanto menjelaskan, kontribusi kekeringan terluas tahun ini berasal dari Jawa Barat dengan luas 18.619 ha dengan puso 111 ha, diikuti Jawa Timur seluas 11.155 ha dengan puso 996 ha.

Data Ditjen Tanaman Pangan, kata Erman, menunjukkan bahwa kekeringan lahan terjadi hampir di seluruh Pulau Jawa. Selain di Jawa Barat dan Jawa Timur, di Jawa Tengah tingkat kekeringanya mencapai 7.568 ha dengan tingkat puso seluas 23 ha. Sementara di Luar Jawa, kekeringan melanda Sulawesi Selatan seluas 8.887 ha, Sumatera Utara 3.833 ha, dan Aceh 1.636 ha. (Norman Meoko)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Anak Di-Bully Berisiko Bunuh Diri

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Suburnya Podolski